Minggu, 23 Juni 2013

Cerpen Battle: Pelajaran dari Dokumen



Ini cerpen battle dengan Nadia Rasendria. Maaf ya Nad, aku enggak bisa yang cerpen perpisahan  ini saja ya ? semoga kalian suka

`````````````
Matahari bersinar terik. Gadis itu membuka mata perlahan melirik jam. 08.20! Dia telat 1 jam! Oh! Tidak! Gadis itu segera mandi buru-buru dan memakai seragam. Dia segera berangkat.
“Uh, pelajaran pertama Bu Layla, pasti kena marah,” katanya.
Sesampainya di sekolah, benar saja, Bu Layla yang se-killer buaya itu menghukumnya.
“Kamu sudah sering terlambat! Saya minta kamu mengubah perilakumu! Sebelumnya, kamu saya hukum! Sekarang, kamu bersihkan toilet!” suruh Bu Layla.
“Apa Bu? Ibu killer banget ya!” kata gadis itu.
“Apa? kamu membantah saya? Oke, hukuman kamu ditambah membersihkan gudang!” kata Bu Layla.
“Uh, iya bu,” jawabnya. Dia segera membersihkan toilet.
“Huh! Bu Layla nyebelin banget sih! Seharusnya Bu Layla dikeluarin aja. Killer banget!!” sahutnya sambil menguras bak mandi.
Tiba-tiba, datang seseorang. Musuh besarnya ke toilet.
“Idiw ... toiletnya kotor banget sih! Yang bersihin juga enggak becus bersihinnya! Tapi, gayanya oke banget bersihin. Kayaknya cocok jadi pembantuku deh. Eh, CHIKA, nanti jangan lupa ya kamu ngebersihin toilet dirumahku!” kata anak itu pedas.
“Hah? Bersihin rumah kamu? SORI YA. aku enggak punya waktu!” cibirnya.
“Huh, kamu sok belagu!” ucapnya pergi. “Rasain aja hukuman dari Bu Layla!”
Chika hanya diam. Ya, gadis yang pembuat onar, bandel,dan sering kena hukum itu bernama CHIKA. Lengkapnya Chika Raudalina. Dia kelas V SD di SDIT At-Taqwa. Walau sekolah di SDIT, perilakunya tak berubah. Dia sendiri tak tau kenapa dia tidak bisa merubah sifatnya.

Gadis kaya yang mencemooh Chika tadi bernama Soraya Adilla Terry. Panggilannya Soraya. Dia anak Pak Garuda, pemilik yayasan SDIT At-Taqwa.  

Setelah menjalani hukuman, Chika mengendap-endap ke ruangan guru. Dia mengambil map berisi dokumen-dokumen Bu Layla. Katanya, nanti ada pengumpulan dokumen. Bu Layla pasti tidak bisa mengumpulkannya.
Rasakan itu! Batin Chika. Astagfirullahalazim, teman-teman, jangan pada ditiru ya.

Chika pun mengendap-endap menaruhnya di tas sekolahnya. Lalu ikut pelajaran.

DIPERCEPAT

Pulang sekolah, Chika pergi ke kantin.
“Bu, pesan es cendol ya!” kata Chika. Itu memang menu kesukaan Chika di kantin.

“Ini dek, tiga ribu ya,” Chika membayar. Samar-samar, Chika mendengar suara Bu Kepala Sekolah atau Bu Wati dengan Bu Layla.

“Saya tidak mau tau, kalau sampai satu jam ini dokumen anda tidak ada di saya, saya akan mengeluarkan anda dari sekolah ini!” kata Bu Wati keras.

“Tapi Bu ... saya sudah menyimpannya di tas. Lagipula, tidak mungkin saya lupa membawanya. Bukannya tadi pagi ibu sudah melihatnya dokumen itu di tas?” kata  Bu Layla menenangkan Bu Wati.

“Tapi saya butuh sekarang! Bukan tadi!” kata Bu Wati. “Saya tidak mau tau! Kalau sampai 1 jam saya kembali dokumen dan map itu tidak ada, lihat saja akhirnya!”

Bu layla terdiam. Terduduk di salah satu kursi kantin. Chika yang mendengarnya tersentak. Dia merasa bersalah mencuri dokumen tersebut. Memang dia sebal dengan perlakuan Bu Layla padanya tadi dan sakit hati. Tapi, jika Bu Layla dikeluarkan? Bu Layla pasti lebih sakit hati darinya. A ... apa? bu Layla? Dokumennya?  Chika seakan tidak percaya dengan kabar yang didengarnya.

“Bu ... bbbuuu ... Layla,” kata Chika pelan.
“Ada apa Nak?” tanya Bu Layla. Dia bersikap lembut.
“Say ... saya mau ngomong. Tap ... tapi ibu janji jang ... jangan marah,” Chika terbata.
“Janji,” jawab bu Layla.
“Say ... sayya ... yyyyyaaaangg ... mennnn ... mencuri map berisi dok ... dokkumen ibbuu... maaaffkannn sayyyyaaa bu, saayyyyaaa mmmmeeemmaangg keterlllaluaaan,” kata Chika sambil sesenggukan menangis.

Bu Layla kaget. Chika yakin  dia akan dimarahi. Tapi? Apa benar?
“Tidak apa-apa Chika,” Bu Layla mengelus kepala Chika. “Sekarang ibu minta mapnya,”
“Sebentar Bu!” Chika mengambilnya di tas. “Maafkan saya ya Bu?”
“Iya, ibu maafkan. Tapi ada satu syarat,”
Chika tersentak. “Saya akan melakukan apapun! Apapun syaratnya Bu!”
Bu Layla tersenyum. “Ibu ingin kamu sekarang menjadi anak yang baik hati, tidak bandel, memperhatikan pelajaran.”
“Ibu yakin!?” kata Chika kaget. “Saya akan melakukannya Bu. Tapi saya tidak tau caranya,”
Bu Layla tersenyum. “Bagaimana kalau belajar dengan ibu mulai nanti sore? Besok kamu juga harus bangun pagi-pagi tidak terlambat! rajin belajar, tidak bandel, dan memperhatikan pelajaran!”
“Baik Bu,” jawab Chika menurut.

PERCEPAT

Hari-hari dilewati Chika dengan senyuman. Dia menjadi murid yang cerdas. hari itu ulangan harian dari Bu Layla dimulai. Pelajarannya Matematika. Chika yakin bisa. Ternyata dia mendapat nilai yang cukup memuaskan. 93. Cukup untuk anak yang telah berubah perangainya seperti Chika.

Anak-anak mulai berteman dengan Chika. Saat ujian kenaikan kelas, Chika yakin bisa mengerjakannya. Dia dengan teliti mengerjakan.

Pembagian rapor ...
“Kelas V-A, juara pertamanya ... Adinda! Juara dua adalah ... Maya! Dan juara tiga adalah Chika!” kata Bu Layla. Chika senang sekali. Semua melongo, anak yang sering kena hukum, pembuat onar, dan suka iseng itu mendapat 3 besar? Hebat!

“Ng ... Chika,” Soraya menyenggol pundak Chika.
“Ada apa?” tanya Chika tersenyum.
“Maafkan aku dulu suka mengejekmu. Sekarang peringkatku dibawahmu. Aku menyesal, aku ingin menjadi temanmu!” ucap Soraya jujur.
“Ya, aku menerima permohonan maafmu Soraya, sekarang kita berteman!” keduanya berpelukan.

``````````TAMAT``````````

Jelek ya? Maaf ya! Ini buru-buru banget buatnya! Maaf ya ... L kalau ada kritik, saran, atau komen, silakan buat di ChatBox atau comment saja demi karya-karyaku selanjutnya! Terimakasih!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar